Thursday, April 12, 2007

Karies gigi pada bayi anda

Karies Gigi

Karies gigi sering terjadi akibat perkembangan kuman yang berlebihan yang sebenarnya merupakan bagian dari flora normal gigi. Kuman yang dianggap paling berperan diantara kuman yang meproduksi asam adalah streptococcus mutant dan lactobacillus species.

Mekanisme Terjadinya Karies gigi

Bila setelah makan atau minum yang manis – manis tanpa dibersihkan dengan benar akan menimbulkan penumpukan plak pada gigi (plague), yang berisikan kuman pembentuk asam. Bila seseorang mengkonsumsi gula berlebih dalam jangka waktu lama (misal saat anak menyusu sebelum atau ketika tidur) maka gula tersebut akan menjadi makanan bagi kuman gigi sehingga terjadi pertumbuhan kuman berlebih. Akibatnya terjadi peningkatan produksi asam berlebih yang akan mengikis mineral gigi (demineralitation process) yang menyebabkan gigi berlubang.

Masa rentan terjadi karies gigi

Masa rentan terjadi karies gigi adalah masa kanan – kanan (anak dan remaja) serta manula. Pada masa anak – anak terkadang setelah mengkonsumsi makanan manis tidak membersihkan gigi atau sembrono dalam membersihkan gigi.

Penularan karies gigi dari ibu ke bayi

Karies gigi adalah kondisi menular yang ditularkan oleh S. mutant adapun kondisi penularan karies gigi adaalah:

  • bayi menggunakan peralatan makan secara bersama – sama antara yang mengasuh dan si bayi.
  • Bayi akan mengalami serbuan (kolonisasi) flora gigi normal saat mengalami erupsi gigi atau pada saat gigi muncul keluar dari gusi.
  • Kebiasaan berangkat tidur dengan sebotol susu atau minuman manis.

Pemeriksaan gigi sebelum anak berumur satu tahun dipakai untuk mengidentifikasi anak yang beresiko tinggi mengalami karies gigi dan perlukan dilakukan perujukan dan intervensi serta merupakan kesempatan untuk mengobati si ibu sehingga mengurangi kemungkinan menular pada anak.

Masalah Mata Pada Anak

MATA MINUS PADA ANAK

Kacamata bukanlah solusi utama untuk anak yang minus kurang dari 3, justru akan menyebabkan si kecil ketergantungan dan grade minusnya akan semakin tinggi. Ada beberapa latihan dan tips yang dapat ditempuh agar mata dapat kembali normal.

  • Perbaikin kualitas gizi si yang di konsumsi anak setiap hari.
  • Sering – sering mengajak anak ke luar rumah agar matanya terlatih untuk melihat benda atau objek dari jarak jauh.
  • Batasin waktu di depan Televisi atau monitor, karena mata setiap 30-45 menit mesti diistirahatkan.
  • Hindarkan lampu yang jatuh persis di mata si anak, dan hal ini berlaku juga ketika anak sedang berada dalam posisi tidur, karena mata manusia ketika tidur tidak menutup 100%. Jika retina menerima cahaya terus menerus akan menyebabkan kelelehan pada mata dan akan menyebabkan mata minus.
  • Sering – sering menyusui si kecil sehingga saraf dan otot di daerah wajah akan terlatih terus dan efeknya otot focus mata si kecil akan semakin baik.
  • Berikan stimulasi dengan pijatan di daerah dahi, sekitar mata, rahang , leher dan punggung.
  • Lakukan latihan pada mta segungga ia mampu melihat jauh secara bertahap. Misal dengan menciptakan permainan tenak gambar dengan jarak pandang yang selalu diubah.

MENGHINDARI MATA MINUS

Berikut ini beberap tips yang dapat digunakan untuk menhindari mata minus pada anak.

  • Jaga jarak baca 40-45Cm
  • Lakukan aktivitas pemakaian mata jarak dekat dan jauh secara bergantian. Contoh, setelah membaca/mengambar atau bermain di depan komputer 45 menit stop dulu dan lakukan aktivitas lain selama 15-20 menit seperti bejalan – jalan atau melakukan olahraga ringan.
  • Gunakan pencahayaan akurat saat membaca dan tidur.
  • Gizi yang seimbang,
  • Berolahraga di alam terbuka. Seperti melakukan olahraga tubuh datar (laydown position) dan tubuh vertikal (olahraga ini membantu tubuh dan ke arah mata jauh lebih lancar)

TIP UNTUK BERKACAMATA

Kondisi mata minus tinggi pada anak jika dibiarkan berlarut – larut akan menyebabkan bahaya dan juga akan mengakubatkan galukoma (ganguan [ada tekanan mata dan saraf pada penglihatan mata). Hal ini bisa menyebabkan timbulnya sobekan pada retina mata anak. Berikut ada beberapa tips yang perlu di perhatikan.

  • Kacamata tidak perlu digunakan setiap waktu namun secukupnya saja sesuai dengan kondisi dan keadaan mata minusnya. Konsultasikan hal ini pada dokter mata.
  • Lakukan latihan – latihan berikut (link). Dengan latihan yang baik diharapkan grade minus mata si kecil dapat turun atau pada saat si kecil akil baliq, atau paling tidak stabil.
  • Untuk grade minus tinggi seperti 9, kacamata sudah tidak effektif. Gunakanlah lensa kontak. Ajarkan anak yang lebih besar (kelas 4 SD ke atas) bagaimana cara perawatan lensa kontak dan cara penggunaan lensa kontak dengan benar, untuk yang lebih kecil orangtua yang melakukannya.
  • Lasik tidak diberikan pada anak – anak.
  • Ubahlah atau mintalah gaya hidup anak yang lebih baik agar kondisi matanya dapat lebih baik.

Menanganin mata minus

Mata minus dapat dilatih agar mengalami perbaikan dengan cara

  • Melakukan pijatan sekitar mata dan otot – otot punggung dan leher
  • Latihan konvergensi (mendekatkan objek kecil berlahan – lahan ke arah hidung dan bertahan hinggak hitunggan ke 60)
  • Latihan segitiga/triangle
  • Berenang sangat baik bagi anak sebagai stimulasi mata minus. Asal tau saja indeks udara dan air berbedana dana itu sangat membantu akomodasi amplitudo mata anak.

Menaklukkan 8 ulah makan batita

1. Tidak mau diam

Sering kali anak tidak mau diam ketika makan, ketika kita mendudukan dia dalam sebuah posisi terikat pada kursi mereka menggapnya sebagi sebuah aktivitas yang membuang – buang waktu, batita lebih memilih untuk menjelah dan menggenal hal – hal baru. Atau mungkin batita anda lebih suka makan sambil berjalan – jalan, sesekali hal tersebut mungkin dapat di tolerin tetapi bila terjadi terus menerus tentu akan merepotkan kita sebagai orang tua.

Solusi yang mungkin dapat diterapkan dalam hal ini adalah, ajarkan sang anak makan sendiri, dan berhentilah menyuapin dia, dengan begitu anak dapet belajar menikmati makanan dan suasana makan dan makanan itu sendiri. Agar dia tertarik cobalah perkenalkan kursi makan yang lucu dan temanin juga si kecil makan

2. Tidak mau makan jika tidak di hibur

Terkadang ada orang tua yang demi membuat anaknya makan rela menghibur sang anak dengan berabagai macam kegiatan dari menjadi badut sampai melakukan tingkah – tingkah lucu, hal ini jelas tidak baik bagi kondisi si anak, karena mungkin si anak tidak akan melakukan aksi makan bila tidak dihibur. Hal penting yang harus diingat adalah orangtua harus membiarkan si anak makan dan menikmatin makanannya, bukan membut anak makan. Anak harus mengeri bahwa selera lapar dan rasa makanlah yang menuntunya untuk makan.

Solusi yang mungkin bila hal tersebut telah menjadi sebuah kebiasaan adalah membiarkan si anak makan dengan sendirinya dan bila anak menangis hal tersebut wajar dan bila si anak sudah lapar maka dia dengan sendirinya akan makan, tetapi perlu diingat orang tua harus tetap memberikan suasana dan interaksi menyenangkan karena makan adalah aktivitas yang menyenangkan.

3. Menumpahkan makanan

Si kecil acap kali melakukan experimen dengan mangkok atau gelas yang disediakan untuknya, bak seorang peneliti si anak melakukan aksi menumpahkan atau memindahkan kuah atau makan an dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini wajar karena rasa ingin tau si anak yang terlalu besar. Tetapi kebiasaan ini tibak baik bila berlanjut hingga ke masa prasekolah.

Solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah tumpahan yang tidak perlu terjadi adalah dengan menyediakan gelas yang tepat, misalnya ukuran gelas yang tidak terlalu besar dan ajaklah si anak untuk berinteraksi membersihkan tumpahan yang telah dilakukan (hal ini dilakukan sebagai salah satu pengembangan karakter bertanggung jawab si anak), selain itu jangan pernah menertawakan si anak karena dengan begitu mereka merasa di perhatikan dan tidak segan – segan akan melakukan hal yang sama lagi.

4. Waktu makan yang lama

Anak – anak makan membutuhkan waktu yang lama adalah hal yang wajar karena anak butuh proses untuk menikmati makanannya. Kesabaran yang tinggi orangtua adalah kunci suksesnya. Berilah focus yang baik pada anak sehingga si anak focus pada makanan bukan hal lain seperti televisi atau bermain – main.

5. Melempar – lempar makanan

Hal tersebut sering dilakukan bila anak merasa bosan atau kesal terhadarp makanan dan tidak menutup kemungkinan bahwa si anak hanya melakukan keisengan – keisengan kecil.

Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal ini adalah jangan biarkan menu yang sama disantap si kecil setiap hari, begitupulah memaksa si anak mengkonsumsi makanan yang tidak enak yang mana andapun akan malas untuk menyentuhnya.

Selain itu sediakan makanan secukupnya atau alihkan anak pada hal – hal lain ketika keisengan sianak sudah mulai keliatan atau berikan sebuah pengertian kecil ke pada si anak.

6. Menyemburkan makanan

Hal ini sering terjadi karena si anak mendapatkan respon positif ketika si anak melakukan tindakan tersebut, hal ini kurang baik karena selain menganggu juga membuang makanan dengan percuma.

Ganti makanan yang bertipe mudah sembur dengan kanan lain seperti pisang, wortel dan lainnya, dan jangan berikan respond positif (biarkan dan cuek) pada anak ketika dia melakukan hal tersebut.

7.Makan berantakan

Hal ini umumnya terjadi ketika anak makan sendiri, akibatnya banyak makanan yang terbuang dan bercecer dimana – mana, terkadang orangtua mengambil alih acara makan sehingga makan lebih bersih dan cepat, hal ini tidak baik dilakukan karena akan tidak akan menjadi mandiri dan selalu tergantung kepada orang tua.

Solusi Hal ini wajar terjadi karena si anak berusaha untuk mengkoordinasi tangan untuk dapat tepat dimasukkan ke dalam mulutnya dan sering waktu dan proses hal ini akan semakin baik..

8. Malas mengunyah

Hal ini dilakukan karena berbagai faktor antara lain karena si anak sariawan atau sakit gigi yang menyebabkan si anak akan langsung mengunyah makanan tersebut, atau faktor lain karena bosan dengan makanan tersebut sehingga si anak tidak mau merasakan dan langsung melakuka aksi telan.

Solusi bagi orangtua adalah berikan makanan yang bervariasi dan juga mudah di cerna sehingga bila hal tersebut terjadi tidak akan menggangu pencernaan si anak.